Akhir-akhir ini sedang ramai gerakan boikot stasiun Televisi Indonesia dengan tagar #boikottrans7. Lantas apa yang memicu gerakan boikot hingga para Santri terjun demo ke kantor trans7?
Pada tanggal 13 Oktober 2025, salahsatu program Trans7 menampilkan pemberitaan terkait pondok Lirboyo yang kental dengan feodalisme. Hal ini sontak memancing amarah para santri hingga pengajar di sebagian besar pondok yang ada di Indonesia, khususnya pulau jawa, dan lebih khususnya lagi pondok yang berbasis nahdhatul Ulama (NU)
Kenapa Pondok Muhammadiyah tidak ikut protes?
Fenomena unik terjadi ditengah keributan ini adalah, pendemo hanya merupakan dari satu golongan saja, yaitu NU. Sedangkan pondok lain yang berbasis modern khususnya, terpantau tentram. Hal ini karena 2 pemahaman yang berada dalam memuliakan guru.
Golongan yang tidak mempermasalahkan tayangan Trans7 mengartikan perkara ‘memuliakan guru’ dengan sewajarnya tanpa menundukkan badan, apalagi hingga ngesot-ngesot bahkan sampai minum air bekas wudu kiyainya. Golongan ini memperlakukan guru sebagaimana manusia biasa, hanya lebih memperhatikan adab dalam berbicara dan bersikap dengan tidak berlebihan.
Sedangkan pada golongan kedua, mereka mengambil perkataan Ali bin Abi Thalib yang pernah berkata “aku adalah budak bagi siapapun yang mengajarimu ilmu meski hanya satu huruf”
Namun jika kita perhatikan lagi, bukankah setelah Islam datang, perbudakan itu dihapuskan?
bagaimana pendapat anda? tinggalkan komentar untuk kebaikan ummat.